Home / Ekonomi / Dongkrak Ekonomi Kerakyatan, LDII Tingkatkan Kinerja Pengelolaan UB
UB 1

Dongkrak Ekonomi Kerakyatan, LDII Tingkatkan Kinerja Pengelolaan UB

Dewan Pimpinan Wilayah Lembaga Dakwah Islam Indonesia (DPW LDII) Provinsi Jawa Timur melaksanakan Pelatihan Peningkatan Kinerja Sumber Daya Manusia Pengelola Usaha Bersama (UB) se-Jawa Timur. Kegiatan tersebut diadakan 25- 26 Februari 2017 di Pondok Pesantren Wali Barokah Kediri.

UB merupakan program ekonomi kerakyatan yang dilakukan oleh Warga LDII untuk mendongkrak ekonomi dari kalangan bawah. Dalam pengelolaan UB selama ini, masih terdapat beberapa kendala sehingga pengelolaannya cenderung stagnan atau jalan di tempat. Hal ini dikarenakan masih banyaknya strategi, petunjuk, dan minimnya sumber daya di lapangan yang belum dipahami secara pasti mengenai pengelolaan UB yang efektif, efisien, dan modern.

“Dalam pengelolaan UB, diperlukan taksiran pangsa pasar (market assessment), potensi omset yang akan terjadi, pelaku konsumen dan kompetitor, dan peluang yang dapat diciptakan atau dimunculkan ketika sudah berjalan,” tandas Andri Krisnanto dari Tim Pokja UB DPP LDII.

Pemateri lainnya, H. Sugeng Widodo, SH, MH menganjurkan agar seluruh UB memiliki badan hukum seperti koperasi, yayasan, atau perusahaan. UB yang berbadan hukum harus melalui izin dari Kemenkumham, sedangkan yang tak berbadan hukum harus seizin dari Kemendagri. Keberadaan badan hukum itu akan menentukan kunci sukses UB dengan mitra usaha.

“Hal ini perlu dilakukan guna pengefektifan manajemen dari UB itu sendiri dan siap untuk maju serta bekembang di kemudian hari. Aspek keuangan, keuntungan, kerugian, dan resiko yang terjadi itu mutlak harus diketahui oleh setiap pelaku bisnis, dalam hal ini yaitu manajemen UB,” tambah Sugeng Widodo yang menjadi pengacara di Jakarta.

Dalam acara itu juga disinggung mengenai pengelolaan bisnis yang perlu memperhitungkan sumber pendapatan. Ini terkait resiko yang akan dihadapi nantinya. Ada tiga tipe bisnis yang akan dikelola oleh pelaku bisnis, yaitu low risk, medium risk, dan high risk.

Pertama, low risk merupakan usaha yang akan dilakukan dengan melihat peluang dan resiko yang kecil atau lemah. Contohnya, usaha tanah yang tidak bergerak, jual jasa, dan properti. Kedua, medium risk merupakan usaha yang akan dilakukan dengan memperhatikan resiko yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil atau menengah. Contohnya, usaha sembako dengan modal tiga puluh juta rupiah. Ketiga, high risk artinya usaha yang akan dilakukan dengan melihat peluang dan resiko yang tinggi. Misal, usaha di bidang saham yang modalnya bisa milyaran rupiah,“ papar Arie Wibisono dalam sesi materi sumber pendapatan.

Arie Wibisono menyarankan UB untuk masuk ke segmen usaha medium risk terlebih dahulu, agar mampu bersaing di pasar. “Kemudian, paling tidak UB harus untung 20-50% dari total omset. Setelah itu, UB dapat memasukkan ke segmen usaha yang low risk untuk mempermudah pasar bagi kalangan menengah ke bawah,” pesan Arie Wibisono yang merupakan lulusan STAN.

Menurut sejarah berdirinya, LDII membentuk UB saat terjadi krisis moneter pada 1998. Lilik Istanta, salah satu tim Pokja UB DPP LDII menyatakan, selama hampir dua dekade, UB telah berjalan, bertumbuh, dan berkembang. Untuk itu Lilik menyarankan persiapan untuk menumbuhkan UB mulai saat ini agar kelak ketika besar semua pihak terkait sudah siap menghadapinya.

“UB kita ini sudah seperti pohon bambu yang sudah tumbuh besar, tinggal akarnya saja yang akan kita kuatkan dengan melakukan pelatihan dan pendidikan,” kata Lilik Istanta kepada para peserta pelatihan UB se-Jatim.

Selain itu, hal penting lain dalam membuka usaha adalah segmentasi usaha. Artinya, untuk memulai usaha harus bisa menentukan dan mencari segmentasi usaha. Mulai dari jenis kelamin, usia, penghasilan, dan harga produk. Dalam proses penjualan pula harus memakai strategi pemasaran yang lincah dan tepat sasaran agar tidak menghabiskan banyak energi. Misal, UB menjual sembako dengan mentarget para kaum ibu rumah tangga. Penjual UB harus menjual makanan kecil atau jajanan anak-anak agar ibu rumah tangga juga mau mampir dan melihat sembako yang dijual di UB.

Sementara itu, pembuat situs pikub.com, Wira Pradana ikut memberi materi terkait proses pengelolaan UB. Menurutnya, ada tiga pilar UB yang harus dijalankan oleh setiap pengelola UB, diantaranya lini produsen, lini kehalalan usaha yang syariah, dan penjualan (marketing) melalui situs penjualan online yakni pikub.com. Selain itu perlu juga mempertimbangkan sembilan kunci sukses dalam pengelolaan UB yakni produk, konsumen, channel distribusi, kepuasan pelanggan, proses, sumber daya, mitra, pendapatan, dan biaya.

Penulis: M. Fauzi Wibowo
Editor: Widi Yunani

Check Also

MoU BNN-LDII

Komitmen Bersih Narkoba, LDII dan BNNP Jatim Tandatangani MoU

Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi Jawa Timur (BNNP Jatim) Brigjen Pol Fatkhurrahman, SH, MH mengatakan, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *