Home / Berita Daerah / Jadi Wartawan Tak Hanya Bermodal Pede
Ketua Departemen KIM DPP LDII, Ludhy Cahyana Pemateri Pelatihan Jurnalistik di Aula Al-Karim, Sugio, Lamongan, Minggu (3/10).
Ketua Departemen KIM DPP LDII, Ludhy Cahyana Pemateri Pelatihan Jurnalistik di Aula Al-Karim, Sugio, Lamongan, Minggu (3/10).

Jadi Wartawan Tak Hanya Bermodal Pede

Menjadi seorang wartawan tak hanya bermodal percaya diri namun juga harus melakukan riset sebelum liputan. Riset bisa dilakukan melalui riset pustaka, googling, observasi maupun diskusi. Hal ini disampaikan Ketua Departemen KIM DPP LDII, Ludhy Cahyana saat pelatihan jurnalistik di Aula Al-Karim, Sugio, Lamongan, Minggu (3/10).

“Wartawan yang baik adalah wartawan yang selalu melakukan riset sebelum melakukan liputan,” ujarnya.

Oleh karena itu terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan supaya sebuah berita layak untuk dipublikasikan, yakni keterkenalan seorang tokoh yang akan dimuat dalam sebuah berita, besaran atau jumlah orang yang terlibat dalam sebuah peristiwa, Proximity Geografis (yang dekat selalu menarik), Proximity Psikologis (ikatan batin), hal yang unik, peristiwa konflik, hal-hal yang mengandung uang dan juga sebuah kebijakan atau keamanan.

“Tak semua hal layak dijadikan berita, oleh karena itu sebelum menulis diamati dulu apakah peristiwa tersebut layak untuk dijadikan sebuah berita atau tidak,” terang Ludhy.

Pelatihan Jurnalistik yang diadakan oleh Pokja KIM DPD LDII Kabupaten Lamongan ini diikuti 55 peserta dari seluruh PC/PAC setempat. Pelatihan ini diadakan untuk mencari bibit-bibit jurnalis dari kalangan generasi muda.

Lebih lanjut Ludhy juga menerangkan, saat ini media massa dan media sosial saling bertarung dalam menyampaikan sebuah informasi. “Media sosial itu pusatnya segala informasi. Kalau dulu kita mencari informasi harus ke perpustakaan dulu, tapi sekarang tinggal cari di Google,” terang Ludhy.

Setelah melakukan sebuah riset. Langkah selanjutnya sebelum menulis sebuah berita adalah wawancara. Wawancara dapat dilakukan dengan berbagai cara, yakni dengan cara tatap muka, door stop, janjian atau wawancara dengan telepon.”Seorang wartawan harus memiliki jiwa percaya diri dalam wawancara, cara untuk menjadi percaya diri adalah dengan melakukan riset terlebih dahulu,” sahut Ludhy.

Riset tersebut meliputi pencarian terkait peristiwa atau narasumber yang akan diwawancarai. Bisa juga mencari tahu tentang beragam informasi terkait peristiwa yang akan diliput.

Saat melakukan wawancara bisa didasarkan pada rumusan 5W+1H yaitu what (apa), who (siapa), when (kapan), where(dimana), why (kenapa) dan how (bagaimana).

“Buat pertanyaan sesuai rumus itu saja dalam wawancara, maka itu sudah cukup untuk menjadi bahan dalam penulisan berita, tapi kalian baru bisa membuat pertanyaan, ketika kalian sudah tau tentang isi peristiwa tersebut,” ujarnya. (ysy)

Check Also

Pelatihan Jurnalistik di Aula Al-Karim, Sugio, Lamongan, Minggu (3/10).

Kaderisasi Jurnalis Muda, LDII Lamongan Adakan Pelatihan Jurnalistik

Untuk kaderisasi jurnalis muda, Kelompok Kerja Komunikasi, Informasi dan Media (POKJA KIM) DPD LDII Kabupaten …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *