Home / Dakwah / Mata Buram Tak Halangi Hafal 30 Juz
Ridho, penderita low vision berhasil hafalkan Alquran

Mata Buram Tak Halangi Hafal 30 Juz

Menderita kelainan penglihatan (low vision) tak mengendurkan tekad Ridho Saputro untuk menghafal 30 juz Alquran. Apa kiatnya?

Pandangan mata yang redup, tak menyurutkan langkah Ridho Sahputra sebagai hafidz. Ia telah menghafalkan 30 juz Alquran. Sebagai penderita low vision sejak lahir, kehidupan Ridho bukanlah perkara mudah, terutama soal belajar.

“Saya sempat masuk ke dalam organisasi tunanetra agar bisa memahami dan mengetahui para penyandang tunanetra, dalam berinteraksi dengan orang lain dan cara belajar mereka,” tukas Ridho. Sebagai anak yang lahir di keluarga kelas menengah, orangtuanya mendukung tumbuh kembang Ridho. Ia pun sejak lulus SD, mengikuti program home schooling untuk tingkat SMP hingga SMA.

Namun, belajar akademis tak memuaskan hasrat Ridho. Ia merasa ada yang kurang dalam hidupnya. Lalu, semasa menjalani home schooling, ia mengikuti kelas di Pondok Pesantren Syairullah yang berada di Jakarta Timur, “Saya mengalami keterbatasan fisik pada penglihatan, dan saya juga kurang tertarik belajar mata pelajaran di sekolah,” kenang Ridho. Namun, di pesantren itu dahaga ilmu agama jauh mengalahkan keinginannya belajar pelajaran sekolah. Usai lulus dari home schoolling, ia memutuskan belajar secara penuh di Pesantren Syairullah.

Di pesantren itulah, kesungguhannya mempelajari Alquran dari dari bacaan, makna, dan keterangan, kian menggebu. “Dari situlah, muncul keinginan untuk menghafal Alquran dengan berbagai metode yang diajarkan oleh pondok pesantren,” tutur Ridho.

Pesantren membuat keinginan Ridho, yang terpendam sejak kelas 4 SD, seperti menemui kenyataan. Saat itu, sekitar tahun 2006, ia diajak umroh oleh ayah ibunya. Saat di Masjidil Haram, ia tersentuh dengan alunan ayat suci yang dibacakan Syeikh Abdurrahman As-Sudaish, saat mengimami salat. Hatinya tersentuh, dan membuatnya kagum dan tertarik untuk menghafalkan Alquran.

Di Mekkah, ia meminta orangtuanya membelikan kaset murotal Alquran yang dibawakan oleh Imam Masjidil Haram Syeikh Abdurrahman As-Sudaish. Alunan nada-nada Alquran itu membius Ridho, dan meneguhkan hatinya untuk terus menerus mendengarkan bacaan Alquran. Ia pun mulai menghafal Alquran seayat demi seayat pada juz ke-30, dengan metode mendengarkan.

Dengan metode mendengar itu, remaja kelahiran Jambi ini mampu menghafal juz amma meskipun beberapa tajwid dan makhroj-nya kurang jelas. Selain dengan mendengar, Ridho memutuskan mengasah hafalannya dengan membaca Alquran secara langsung – meskipun dengan segala keterbatasan penglihatannya. Untuk mempercepat hafalan, ia membaca berulang-ulang, minimal 10 kali atau sampai hafalan itu melekat dalam benaknya.

Kebiasaan itu yang ia lakukan selama empat tahun secara konsisten, “Walaupun memang berat sekali cobaannya, di antaranya keterbatasan fisik penglihatan hingga sampai godaan terhadap kesenangan dunia di luar pesantren,” ungkap Ridho. Berkat kerja kerasnya itu, Ridho hafal 30 juz dan memperkuat hafalan Alquran di Pondok Pesantren Ummul Quran di Nganjuk dan rumah hafalan di dekat Pondok Pesantren Wali Barokah Kediri binaan KH. Kholil Bustomi, LC.

Semua itu Ridho lalui dari titik nol. Ia mulai belajar bacaan mulai dari Iqra’ dengan seorang mubaligh. Dengan tekad yang kuat dan keinginan untuk bisa membaca Alquran yang sangat tinggi, serta niat hanya karena Allah semata, maka Allah memberikan kemudahan dalam proses membaca dan menghafal. “Dalam menghafal Al Quran niat haruslah murni karena Allah, sungguh-sungguh, fokus, dan sabar serta rela berkorban meninggalkan urusan keduniaan yang sifatnya sementara ini,” begitu pesan Ridho.

Lalu istiqamah atau konsisten secara terus menerus dan jangan sampai putus. Dan yang terakhir harus diikat dengan doa kepada Allah untuk minta kekuatan. Ridho pun berpesan dalam menghafal Alquran supaya mempersungguh. Ia pun mengakui dan merasakan secara langsung bahwa hidup berdampingan dengan Alquran membuat hidupnya lebih lebih berwarna dan indah, tidak sesuram pandangan matanya. (M. Fauzi Wibowo)

Check Also

Pakar Psikologi DPP LDII Nana Maznah Prasetyo memberikan materi pembinaan keluarga kepada peserta Seminar Wanita LDII Jawa Timur, Minggu (26/8).

LDII Ajarkan Peran Orang Tua dalam Mewujudkan Pembinaan Keluarga di Era Digital

DPW LDII Jawa Timur menggelar seminar wanita tentang pembinaan keluarga pada era digital, Minggu (26/8). …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *