Home / Dakwah / Membiasakan Diri Selalu Dalam Keadaan Baik
Foto: rixxono.wordpress.com
Foto: rixxono.wordpress.com

Membiasakan Diri Selalu Dalam Keadaan Baik

Guru Pondok Wali Barokah Kediri KH. Abdullah Mas’ud berkesempatan memberikan tausiah setelah shalat maghrib di Masjid Luhur Al Ikhlas, Surabaya, Sabtu (23/4).

Dalam tausiahnya Abdullah mengatakan bahwa generasi muda LDII supaya membiasakan diri selalu dalam keadaan yang baik. Ada seorang ulama mengatakan “Barang siapa yang membiasakan sesuatu di masa hidupnya maka dia saat meninggal dalam keadaan kebiasaannya tersebut”.

“Orang ahli puasa maka meninggal dalam keadaan puasa, orang ahli shalat sunah maka meninggalnya tidak jauh-jauh dari shalat,” kata Abdullah.

Abdullah menceritakan temannya yang ahli umroh bahkan dia mempunyai cita-cita ingin mati di Mekkah. Namun dalam suatu ketika dia mempunyai masalah, ia akan dideportasi karena ada masalah visa. Ia semestinya paginya terbang sorenya melaksakan umroh. Ternyata Allah mengabulkan cita-cita hambanya tersebut, sebelum pulang ke negaranya ia melakukan umroh, dalam keadaan umroh ia meninggal dalam keadaan masih memakai pakaian ihram.

“Dalam hikmah tersebut kita ingin meninggal dalam keadaan seperti apa? Saya ingin meninggal dalam keadaan shalat, saya ingin meninggal dalam keadaan sujud. Maka jadilah orang ahli shalat. Berupaya mengerjakan shalat sunah agar mati dengan keadaan shalat,” tambahnya.

Salah satu yang bisa dilakukan adalah hidup dengan lingkungan yang baik atau memperbaiki pergaulan.

Perumpamaan teman baik dan teman yang tidak baik sesuai sabda Rasulullah SAW, “Seperti penjual minyak wangi (parfum) dan tungku pandai besi. Kalau kita mendekati penjual minyak wangi maka kemungkinan paling baik kita diberi minyak wangi atau kita membeli atau kita disuruh mencoba minyak wanginya. Setidaknya kita sering mencium minyak wangi. Sebaliknya kalau kita dekat dengan tungku besi setidaknya kita ikutan bau tak sedap darinya. (HR. Bukhari dan Muslim).

Maka sekeras apapun nasihatnya, sebanyak apapun nasihatnya kepada orang tersebut itu tidak ada manfaatnya kalau pergaulannya jelek. Contoh kisah paman Rasulullah SAW yaitu Abu Thalib, Ia yakin bahwa agama yang dibawa Nabi Muhammad Rasulullah SAW itu benar, tapi mengapa ia berat sekedar mengucapkan ‘laa ilaha illallah’ dalam menjelang wafatnya. Karena pengaruh lingkungannya, ia malu meninggalkan agama nenek moyangnya.

“Maka bergaullah dengan teman yang baik sehingga kamu akan terseret dalam keadaan baik pula,” tutup Abdullah.

Penulis: Sofyan Gani
Editor: Widi Yunani

Check Also

Foto: auracles.blogspot.com

Pemuda di Zaman Rasulullah

Sebuah negara, organisasi maupun kelompok bisa maju, besar dan tetap eksis, semua tergantung pada pemuda-pemudanya. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *