Home / Opini / Radio dari Masa ke Masa
Radio dari Masa ke Masa
Radio dari Masa ke Masa

Radio dari Masa ke Masa

Radio merupakan media massa elektronik yang muncul pada abad ke-20. Kini radio beradaptasi perubahan dunia melalui hubungan saling menguntungkan dan melengkapi dengan media lain.

Sebagai unsur dari proses komunikasi massa, radio siaran mempunyai ciri dan sifat yang berbeda dengan media massa lainnya yaitu bersifat audial. Radio siaran memiliki keunggulan yakni murah, merakyat, dan bisa dibawa atau didengarkan dimana-mana. Seiring dengan perkembangan zaman, radio bukan hanya media hiburan dan informasi, namun radio sudah menjadi media activation. Karena itulah, setiap stasiun radio memiliki idealisme tersendiri untuk menarik pendengarnya.

Radio sudah berkembang dari masa ke masa. Ketika Perang Dunia I dan II, radio digunakan militer untuk komunikasi terkait strategi perang. Radio juga mempunyai peran sebagai wadah informasi kepada publik pada era 1920-an. Seiring berkembangnya teknologi, layanan video streaming mulai muncul menggeser keperkasaan radio. Layanan video streaming mampu memberikan audio visual yang menarik, serta informasi yang lebih cepat dan mudah diakses kapan saja dan dimana saja. Tak heran jika layanan video streaming lebih mudah mendapatkan hati masyarakat. Namun, hingga saat ini radio masih menyimpan peran vital bagi penggemarnya. Masih ada sekelompok orang yang masih rajin mendengarkan radio, yang kini juga sudah berbasis internet melalui layanan streaming.

Ludhy Cahyana, Koordinator KIM DPW LDII Jatim
Ludhy Cahyana, Koordinator KIM DPW LDII Jatim

Koordinator Biro Komunikasi Informasi dan Media (KIM) DPW LDII Jawa Timur, Ludhy Cahyana menuturkan bahwa radio masih diminati, terutama sebagai teman di perjalanan. “Terutama di Jakarta, masyarakat masih menyalakan radio untuk mendengarkan lagu dan mengakses informasi terutama saat di perjalanan,” ujar Ludhy.

Ludhy juga menambahkan bahwa peran radio masih penting dari sisi keunikan dan kedekatannya dengan masyarakat. Hanya saja, masyarakat memang tak selalu mendengarkan radio di rumah. “Justru mereka mendengarkan radio saat dalam perjalanan, untuk mengetahui lalu lintas dan cuaca,” jelas Ludhy.

Penurunan jumlah peminat radio dipengaruhi oleh kemunculan berbagi media elektronik yang didukung dengan teknologi yang canggih salah satunya televisi. Tantangan inilah yang membuat radio harus berinovasi sehingga masih bisa bertahan walau sudah berganti zaman. “Tantangan radio di era internet sangat besar, untuk itu radio harus beradaptasi. Dan radio yang mampu menciptakan segmen, masih bisa bertahan karena memiliki pasar yang tetap. Era digital saat ini justru membuat radio kian kreatif agar tetap bisa bertahan,” pungkas Ludhy. (aks)

Check Also

Tantangan New Normal Sebagai Solusi Penggerak Ekonomi Kala Covid-19

Pandemi Covid-19 telah memporak-porandakan seluruh tatanan sosial masyarakat di seluruh dunia, tanpa terkecuali Indonesia. Pencegahan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *