Home / Seputar Jatim / Sat Binmas Polres Malang Ajak Pemuda LDII Tangkal Paham Radikalisme dan Terorisme
PC LDII Kepanjen menggelar pengajian sekaligus sosialisasi tentang bahayanya radikalisme dan terorisme yang bertempat di Masjid Baitul A’la, Kepanjen, Kabupaten Malang, Minggu (22/5).
PC LDII Kepanjen menggelar pengajian sekaligus sosialisasi tentang bahayanya radikalisme dan terorisme yang bertempat di Masjid Baitul A’la, Kepanjen, Kabupaten Malang, Minggu (22/5).

Sat Binmas Polres Malang Ajak Pemuda LDII Tangkal Paham Radikalisme dan Terorisme

PC LDII Kecamatan Kepanjen bekerjasama dengan Satbinmas Polres Malang mengadakan pengajian sekaligus sosialisasi tentang bahayanya radikalisme dan terorisme yang diselenggarakan di Masjid Baitul A’la, Kepanjen, Kabupaten Malang, Minggu (22/5).

Acara yang dihadiri 200 peserta ini mengundang narasumber AKP Dwiko Gunawan, S.H Kasat Binmas Polres Malang.

Ketua PC LDII Kecamatan Kepanjen Ali Rahmat dalam sambutannya mengatakan kegiatan ini sebagai upaya menanggulangi kenakalan remaja. Menurutnya di zaman sekarang sudah terlalu banyak kejahatan yang terjadi di lingkungan kita baik nyata atau di dunia maya.

“Sudah sering kita lihat anak-anak yang sudah bisa memainkan gadget dengan mudah mengakses situs internet yang tidak semestinya, ini kalau dibiarkan bisa merambat ke tindak kriminalitas lainnya. Untuk itu saya mengantarkan bapak Kasat Binmas Polres Malang Kabupaten ke sini untuk memberikan wawasan kepada para pemuda-pemudi LDII Kepanjen terkait paham terorisme dan bagaimana cara kita sebagai kawula muda bisa mencegah hal-hal tersebut,” tutur Ali.

Di awal materi, AKP Dwiko Gunawan menjelaskan tentang tugas pokok dan fungsi kepolisian. Selanjutnya beliau memaparkan bahwa bahaya terorisme di Kabupaten Malang sangat mengkhawatirkan. Pasalnya dari beberapa temuan dan indikasi terorisme banyak yang berada dan berasal dari wilayah Kabupaten Malang.

AKP Dwiko Gunawan, S.H Kasat Binmas Polres Malang.
AKP Dwiko Gunawan, S.H Kasat Binmas Polres Malang.

Dwiko menjelaskan bahwa target pelaku terorisme merekrut anggotanya adalah orang-orang yang memiliki masalah atau beban hidup dan hobi dengan memberikan perhatian lebih dan kesenangan yang diinginkan. Sehingga sangat dimungkinkan generasi muda akan mudah ikut kelompok ini.

Ia menambahkan bahwa penyebaran ancaman terorisme di Indonesia mulai utara Sumatra yaitu Aceh, Jawa termasuk Malang, Kalimantan bagian timur, NTB, dan sebagian Sulawesi.

“Mungkin kayaknya tenang-tenang aja, tetapi dia bergerak tidak kelihatan, di bawah permukaan. Tanpa kita sadari mereka hadir di tengah-tengah kita kemudian mempengaruhi kita. Sehingga adik-adik memahami agama jangan setengah-setengah, kuasai betul, ketika tidak jelas jangan sok faham, kemudian menafsirkan sendiri, ternyata keliru,” ungkap Dwiko.

Tidak hanya sampai disitu, pengaruh yang ditebar oleh teroris juga melalui dunia maya atau sosial media. “Hati-hati juga media sosial, sok membicarakan agama ternyata belum tentu juga benar yang di share. Di satu pihak seseorang memasukkan di media sosial seperti ini melakukan ini dan itu, tetapi disisi lain ada yang menentang, jangan-jangan orang itu sama, sama-sama membuat kita bingung. Di tengah kebingungan mereka akan mudah masuk,” imbuhnya.

Berdasarkan paparannya tindakan terorisme di dunia yang mengatasnamakan agama Islam berdampak pada tercemarnya Islam dan citra negatif yang melekat pada Islam, seolah-olah Islam identik dengan terorisme. Padahal Islam adalah rohmatan lil ‘alamin dan penuh kasih sayang, tidak hanya sesama Islam tetapi juga antar umat beragama.

Adanya kondisi itu terjadi di Indonesia akhir-akhir ini karena menipisnya wawasan kebangsaan warga negara Indonesia. Kondisi ini seperti negara Uni Soviet karena melupakan sejarah bangsanya akhirnya rasa cinta tanah airnya pun menipis dan akhirnya terpecah belah seperti sekarang menjadi Bosnia, Serbia, Kroasia, dan negara-neraga pecahan Soviet lainnya.

Di hadapan peserta Dwiko berpesan, sebagai warga Kabupaten Malang harus bangga dan turut menjaga keamanan Kabupaten Malang. Sebab Bupati Malang pada tahun 2007 melalui Peraturan Bupati Nomor 10 tahun 2007 mengeluarkan kebijakan tentang Siskamling, yaitu pasal 13 dan pasal 15 tentang wajib lapor 1×24 jam. Tidak semua pemerintah daerah seperti Kabupaten Malang yang punya dasar hukum.

Perlu diingat para kelompok teroris selama ini tertangkap bukan di rumahnya sendiri mayoritas mereka tertangkap di rumah kos-kosan/kontrak antara 1-5 bulan dengan harga di atas rata-rata.

“Saya himbau disini, mari kita kepedulian terhadap lingkungan melalui wajib lapor dan siskamling,” imbuh KasatBinmas.

Selanjutnya kita perlu menumbuhkan rasa bangga dan cinta tanah air sebab kita tidak akan bisa menikmati kemerdekaan seperti sekarang ini tanpa ada perjuangan-perjuangan para pahlawan kita dahulu.

Kasatbinmas menambahkan, yang sekarang perlu diwaspadai adalah proxy war, yaitu perang dengan bantuan pihak ketiga melaui media sosial dan tontonan di media elektronik yang mengajarkan penyesatan dan kenakalan remaja.

Selain proxy war, maraknya peredaran narkoba yang bisa menghancurkan generasi tanpa harus angkat senjata. Narkoba bisa merusak syaraf-syaraf penggunanya.

Untuk mencegah keterlibatan dengan narkoba, Kasatbinmas memberikan tips. Jika ada orang tidak dikenal baik di Malang bahkan di luar negeri jangan mudah menerima tawaran yang tidak diketahui. Apabila dititipi sesuatu dari orang yang tidak dikenal dan tidak tahu isi barang tersebut sebaiknya menolak atau diberikan kepada petugas yang berwajib, sebab bisa saja itu merupakan narkoba atau barang berbahaya lainnya.

Penulis: Anang Wijayanto/Ainur Rofiq
Editor: Widi Yunani⁠⁠⁠⁠

Check Also

WhatsApp Image 2017-10-02 at 19.52.36

Tingkatkan Kualitas Mubaligh, LDII Jatim Gelar ToT Tahfidzul Quran

Guna mencetak generasi penerus bangsa yang profesional religius, para muballigh (red: penyampai agama) harus lebih …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *