Home / Dakwah / Fotografi Jurnalistik, Bukan Hasil Manipulasi Fakta

Fotografi Jurnalistik, Bukan Hasil Manipulasi Fakta

Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Jawa Timur mengadakan Pelatihan Jurnalistik dengan tema “Peningkatan Mutu Berita Pada Era Digital”, Sabtu (28/2). Pada pelatihan ini, selain materi jurnalistik, diberikan pula materi tentang fotografi.

Pelatihan ini diikuti 28 peserta. Mereka berasal dari Surabaya, Gresik, Lamongan, Mojokerto, bahkan Wonogiri. Materi fotografi disampaikan oleh Dimas Maulana Ichsan dan Nurdiyanto Khoirurrohman dari LDII News Network (Lines) DPP LDII.

Pelatihan tersebut dilaksanakan secara luring di Kantor DPW LDII Jatim. Pelatihan ini disiarkan secara daring melakui akun Youtube dan Instagram LDII Jatim.

“Fotografi Jurnalistik merupakan bentuk khusus dari jurnalistik yang menggambarkan cerita tanpa memanipulasi peristiwa aslinya,” ujar Dimas.

Menurut Dimas, fotografi harus sebisa mungkin menghindari modifikasi. Foto dapat diterima sebagai foto jurnalistik jika modifikasi tidak menampakan perubahan signifikan. Selain itu, Fotografi jurnalistik harus peka terhadap momen agar hasil foto dapat mengeluarkan ekspresi.

“Kamera dan HP adalah alat, namun yang mengatur foto itu orang yang di belakang alat,” tambah Dimas.

Fotografi jurnalistik harus memahami dasar-dasar fotografi. Diantaranya pengaturan bukaan diafragma, speed, dan segitiga exposure. Di sisi lain, fotografi jurnalistik pun harus memahami komposisi foto. Foto yang layak untuk jurnalis memiliki bobot nilai seperti ketenaran, kedekatan, aktualisasi, dampak, keluarbiasaan, konflik, keunikan, dan atraktif.

Selanjutnya tambah Dimas, yang tergolong kategori foto jurnalistik ialah foto human interest, foto feature, dan foto berita.

Dimas juga memaparkan metode atau tips fotografi jurnalistik seperti entire, details, frame, angle, dan time. Metode tersebut dapat menghasilkan foto yang ekspresif. Foto seperti ini yang layak muat sebagai foto jurnalistik.

Nurdiyanto yang akrab disapa Khoir menambahkan bahwa fotografi jurnalistik juga harus berlatih mengambil gambar. Hasil foto yang bagus dihasilkan melalui praktik mengambil gambar berkelanjutan. Ditambah dengan alat yang memadai untuk pengambilan gambar.
“Pemula akan lebih bagus hasil fotonya dibandingkan fotografer yang sudah lama. Sebab pemula akan terus mencoba dan penasaran hingga membuat hasil fotonya terlihat bagus,” kata Khoir.

Check Also

Pentingnya Evaluasi Diri

Pentingnya Evaluasi Diri

Definisi orang yang cerdas dan kuat menurut Nabi Muhammad SAW adalah orang yang selalu mengevaluasi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *