Home / Dakwah / Menjaga Diri dari Hawa Nafsu
Menjaga Diri dari Hawa Hafsu
Menjaga Diri dari Hawa Hafsu

Menjaga Diri dari Hawa Nafsu

Menjaga 1Salah satu bagian yang melekat pada diri setiap manusia adalah nafsu, karena nafsu merupakan bagian dari mahkluk allah. Dengan nafsu manusia dapat menjalankan kehidupan dan memenuhi kebutuhan di alam dunia, Seperti kebutuhan pokok-sehari hari.

Oleh karenanya di dalam islam ada suatu anjuran untuk menjaga diri dari hawa nafsu. Kalau kita dapat memahami, nafsu bukanlah sesuatu yang buruk. Namun demikian nafsu memiliki kecenderungan yang menyimpang. Ditegaskan di dalam alquran.

                                                                                                                                                       ۞ وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ  إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ 

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejelekan/kemaksiatan (yusuf :53).

Hawa nafsu akan cenderung mengajak kemaksiatan dan mengarah pada hal yang negatif. Maka kita jaga nafsu tersebut, jangan sampai terlena dan menjadi pribadi yang suka maksat. Akan lebih baik jika hari-hari kita lalui dengan fastabiqulqoirot melakukan kebaikan.

Hal yang menarik adalah manusia tidak akan bisa melakukan dua hal yang berbeda dalam satu amaliah. Artinya apa, dalam satu waktu manusia dapat berbuat maksiat dan sesuatu yang mendapat pahala itu tidak akan mungkin dikerjakan bersamaan

Orang yang mengerjakan amal solih tentu tidak mengerjakan perbuatan jelek secara bersaman. Sebaliknya, orang yang berbuat maksiat tentu tidak akan berbuat amal sholih secara bersamaan.

Cukup jelas, sebagai umat islam kita harus paham bagaimana menjaga dan mengontrol hawa nafsu, agar kita selamat dan tidak terjerumus dengan godaan-godaan hawa nafsu. Pilihan ada di dalam diri kita, apakah kita yang mengusai hawa nafsu atau malah kita yang di kuasai hawa nafsu tersebut.

Manusia tidak ada yang sempurna, tempat segala salah dan lupa. Artinya kita sebagai manusia tidak luput dari berbagai kesalahan. Namun kita di ingatkan oleh allah agar tidak mudah salah dan lupa.

Kuncinya bagaimana kita menjaga dan mengontrol diri kita. Salah satunya dengan kita berilmu. Dengan ilmu kita mengtahui baik, buruk, halal, haram dan lainya.

Dari ilmu yang kita tahu dari mengaji Quran hadist. Tahapan berikutnya setelah berilmu adalah fakih. Karena orang yang fakih adalah orang yang bisa mengamalkan ilmu yang dia kuasai.

Agar kita dapat di katakan fakih adalah dengan mengamalkan ilmu yang sudah kita dapatkan. Ilmu tersebut kita amalakan di dalam kehidupan sehari-hari. Perintah kita laksanakan, larangan dijauhi, sunnah kita semangat mengerjakan. Dengan niat yang tulus karena allah. Sehingga kita menjadi pribadi yang fakih.

Tergantung kita mau merubahnya atau tidak dan sudah jelas di terangkan di dalam alquran bahwa:

                                                                                                                                                                                                         إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka” (Ar-Ra’d: 11).

Kalau seseorang itu berbuat suatu kejelekan, dan dia tidak mau meninggalkan kemaksiatannya. Maka allah juga akan membiarkan pada orang tersebut pada keterlenaannya. Mari kita menjadi pribadi yang faham dan senantiasa berlomba-lomba mencari akhirat. (rsa)


Check Also

Keutamaan Shodaqoh di Bulan Ramadhan

Manfaat Shodaqoh di Bulan Ramadhan

Semua orang ingin sempurna pahalanya sempurna mati masuk surga. Kalau kita ingin sempurna pahalanya ada …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *